Purwokerto— UPT Bahasa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penerjemah Buku Cerita Anak pada Rabu, 29 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB di Hall Perpustakaan UIN Saizu tersebut diikuti oleh mahasiswa UIN Saizu yang berminat mengembangkan keterampilan penerjemahan bahasa Inggris–Indonesia dan bahasa Indonesia–Inggris.
Bimtek menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman dalam bidang bahasa dan penerjemahan, yaitu Dr. Khristianto, S.S., M.Hum., dosen Sastra Inggris Universitas Muhammadiyah Purwokerto, serta Erna Kristianti, S.S., penerjemah buku cerita anak yang pernah terlibat dalam penerjemahan buku di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Gramedia Pustaka Utama, dan Nourra.
Dalam pemaparannya, Dr. Khristianto membahas penerjemahan dalam konteks perkembangan teknologi, khususnya penggunaan mesin penerjemah dan kecerdasan buatan. Mahasiswa diperkenalkan pada konsep machine translation post-editing atau penyuntingan hasil terjemahan mesin. Meskipun teknologi mampu menghasilkan terjemahan secara cepat, hasil tersebut tetap memerlukan campur tangan penerjemah untuk memastikan ketepatan makna, kelancaran bahasa, konsistensi istilah, dan kesesuaian dengan konteks pembaca.
Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai perbedaan penggunaan perangkat kohesi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia cenderung menggunakan pengulangan dan padanan leksikal, sedangkan bahasa Inggris lebih banyak menggunakan pronomina, substitusi, elipsis, dan konjungsi. Perbedaan tersebut perlu diperhatikan agar hasil terjemahan tidak menimbulkan kerancuan, terutama ketika menerjemahkan kata ganti orang ketiga seperti he, she, it, dan they.
Sementara itu, Erna Kristianti menjelaskan bahwa menerjemahkan cerita anak bukan sekadar mengganti kata dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Penerjemah harus mampu menyampaikan maksud penulis menggunakan bahasa baku yang mudah dipahami, sesuai dengan usia, perkembangan kognitif, dan kemampuan berbahasa anak. Oleh karena itu, pemilihan kosakata, bentuk kalimat, dan gaya penceritaan harus mempertimbangkan karakteristik pembaca anak.
Erna juga memaparkan berbagai tantangan dalam menerjemahkan cerita anak, mulai dari perbedaan budaya, nama tokoh, permainan kata, rima, onomatope, humor, hingga ungkapan idiomatis. Unsur-unsur tersebut tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah karena penerjemah perlu mempertahankan efek kelucuan, keindahan bunyi, serta pengalaman membaca yang terdapat dalam teks sumber. Keberhasilan penerjemahan cerita anak, menurut materi yang disampaikan, tidak hanya diukur dari kedekatannya dengan kata-kata asli, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan bacaan yang menyenangkan, mudah dipahami, dan bermakna bagi anak-anak Indonesia.
Materi bimtek turut dilengkapi dengan sejumlah contoh dan latihan penerjemahan. Peserta diajak mencermati hasil terjemahan yang dihasilkan oleh teknologi AI, kemudian memperbaikinya agar terdengar lebih alami bagi pembaca anak. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam proses penyuntingan tersebut meliputi pemilihan padanan onomatope, nuansa budaya, tuturan tidak langsung, ritme penceritaan, pengulangan, serta penyampaian pesan moral. Penerjemah juga perlu membaca kembali teks dengan suara lantang untuk memastikan bahwa terjemahan terdengar seperti cerita yang benar-benar ditujukan kepada anak-anak.
Melalui kegiatan ini, UPT Bahasa UIN Saizu berupaya memberikan ruang pengembangan kompetensi bahasa yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga dapat diterapkan dalam dunia profesional. Keterampilan menerjemahkan buku cerita anak diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya kebahasaan yang kreatif, komunikatif, dan bermanfaat bagi perkembangan literasi anak.